oleh

Memaknai Hari Ibu (Refleksi Hari Ibu 22 Desember 2025)

Oleh: Fatmawati, S.Pd.I
Founder Bintan Islamic Parenting 

Tanggal 22 Desember selalu datang membawa ingatan. Tentang pelukan pertama, doa-doa lirih di sepertiga malam, dan pengorbanan yang sering luput dari kata terima kasih. Hari Ibu, bagi sebagian orang, mungkin cukup dirayakan dengan bunga dan ucapan. Namun bagi bangsa ini dan terlebih bagi umat Islam, Hari Ibu sesungguhnya adalah ruang perenungan yang jauh lebih dalam: tentang perempuan, perjuangan, dan peradaban.

Sejarah mencatat bahwa Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928, sebuah peristiwa penting yang menegaskan kesadaran perempuan sebagai subjek perubahan sosial. Sejak awal, Hari Ibu tidak lahir dari romantisme domestik, tetapi dari semangat perjuangan, pendidikan, dan keberanian perempuan mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa.

Dalam Islam, kemuliaan ibu tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga teologis. Al-Qur’an dengan sangat lembut mengingatkan manusia tentang beratnya perjuangan seorang ibu. “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS. Luqman: 14). Ayat ini bukan sekadar narasi biologis, melainkan pengakuan Ilahi atas penderitaan, ketabahan, dan cinta tanpa syarat seorang ibu.

Baca Juga  Langkah-langkah Untuk Mengembangkan Proses Manajemen Kinerja Berkelanjutan di Era Digital

Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, makna keibuan menghadapi tantangan baru. Ibu dituntut kuat, mandiri, produktif, sekaligus sempurna dalam pengasuhan. Namun sering kali, pengorbanan itu berjalan dalam sunyi. Karena itu, Hari Ibu seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak—merenung, mengingat, dan memuliakan peran ibu secara lebih jujur dan bermakna.

Posisi Ibu dalam Islam

Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat istimewa. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang paling berhak mendapatkan bakti, Nabi menjawab tegas, “Ibumu,” hingga tiga kali, baru kemudian “ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa keutamaan ibu bukanlah simbolik, melainkan prioritas moral dalam kehidupan seorang anak.

Lebih dari itu, Rasulullah SAW juga menyampaikan pesan yang sangat mendalam: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i). Ungkapan ini bukan sekadar metafora emosional, tetapi penegasan bahwa jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan akhirat sangat terkait dengan bagaimana seorang anak memperlakukan ibunya.

Baca Juga  Emak-Emak Karimun Curhatkan Anak Remaja ke Suryani

Dalam perspektif parenting Islami, ibu adalah madrasah pertama. Nilai tauhid, adab, empati, dan kejujuran pertama kali ditanamkan melalui tutur kata, sikap, dan doa seorang ibu. Dari rahim dan pengasuhan ibu, lahir generasi yang kelak menentukan wajah masyarakat. Karena itu, krisis pengasuhan sejatinya adalah krisis peradaban.

Namun realitas sosial menunjukkan paradoks. Ibu sering dimuliakan dalam kata-kata, tetapi diabaikan dalam kebijakan dan budaya. Beban ganda, kelelahan emosional, minimnya dukungan pengasuhan, hingga standar sosial yang tidak adil, menjadi luka yang dipikul banyak ibu hari ini. Padahal Al-Qur’an dengan jelas memerintahkan manusia untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tua, khususnya ibu (QS. Al-Isra: 23).

Hari Ibu semestinya menjadi momentum untuk menggeser cara pandang: dari sekadar merayakan peran ibu, menuju tanggung jawab kolektif untuk melindungi, mendukung, dan memberdayakannya.

Makna Hari Ibu

Memaknai Hari Ibu berarti memaknai kehidupan itu sendiri. Sebab tidak ada manusia yang hadir ke dunia tanpa pengorbanan seorang ibu. Tidak ada generasi yang tumbuh tanpa sentuhan kasih, kesabaran, dan doa yang terus mengalir—bahkan ketika anak-anaknya tak lagi berada dalam dekapan.

Baca Juga  Solusi Terhadap Kontroversi Tapera

Dalam Islam, memuliakan ibu bukan agenda tahunan, melainkan kewajiban sepanjang hayat. Setiap sikap lembut, setiap perhatian kecil, dan setiap doa untuk ibu adalah bagian dari ibadah. Sebaliknya, melukai hati ibu—dengan kata atau sikap—adalah luka moral yang berat timbangannya di hadapan Allah SWT.

Oleh karena itu, peringatan Hari Ibu 22 Desember seharusnya menggerakkan perubahan nyata. Keluarga perlu membangun relasi yang lebih adil dan penuh penghargaan terhadap peran ibu. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang ramah terhadap perempuan dan ibu. Negara perlu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada penguatan pengasuhan, kesehatan mental, dan kesejahteraan ibu.

Mari jadikan Hari Ibu bukan hanya perayaan, tetapi pengakuan. Bukan hanya ucapan, tetapi tindakan. Karena dari rahim seorang ibu lahir peradaban, dan dari doa seorang ibu, masa depan menemukan jalannya.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimuliakan karena memuliakan ibu.

News Feed