JAKARTA – Seorang Bayi berusia lima bulan dianiaya oleh ibu kandungnya hingga meninggal dunia di wilayah kecamatan Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur. Kini kasus penganiayaan yang dialami bayi hingga tewas itu ditangani Polsek Wonocolo, Surabaya.
Pemerintah Daerah melalui DP3APPKB Kota Surabaya sudah berkoordinasi intens dengan Kepolisian Sektor Wonocolo agar penanaganan kasus itu terus berlanjut.
“Saat ini tersangka telah ditahan dan ditetapkan sebagai terduga pelaku yang akan dijerat dengan pasal Pasal 76 c jo pasal 80 ayat 4 Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014,” kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Nahar, di Jakarta, Selasa (28/6/2022) lalu.
Menurut Nahar, DP3APPKB Kota Surabaya juga telah melakukan penjangkauan terhadap keluarga, yaitu nenek korban untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan.
“Hal ini mengingat terduga pelaku masih memiliki seorang anak laki-laki berusia 1,5 tahun,” imbuh Nahar.
Nahar menerangkan, kejadian penganiayaan terhadap anak ini tidak diketahui oleh keluarga, termasuk suami terduga pelaku lantaran sedang dalam pelayaran. Berdasarkan informasi yang didapatkan, suami terduga pelaku merupakan pelajar sekolah pelayaran dan berusia 22 tahun.
Menurutnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) sangat menyesalkan terjadinya kasus penganiayaan anak berusia 5 bulan oleh ibu kandungnya ini. Apalagi korban sampai meninggal dunia.
“Kami telah melakukan klarifikasi dan koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya terkait dugaan kekerasan fisik terhadap anak berusia 5 bulan hingga korban meninggal dunia. Kami turut berduka cita dan menyesalkan kejadian kekerasan terhadap anak yang justru dilakukan oleh orang terdekat korban, yaitu ibu kandungnya,” ujar Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Nahar, di Jakarta, Selasa (28/6).
Menurut Nahar, orang tua seharusnya menerapkan pengasuhan berbasis hak anak untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang, kelekatan, keselamatan, dan kesejahteraan anak secara berkelanjutan. Hal ini diperlukan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. “Kasus penganiayaan ini menunjukkan masih adanya anak yang tidak mendapatkan pemenuhan hak dan pengasuhan yang layak dari orang tuanya,” kata Nahar.
Lebih lanjut, Nahar menilai perlu adanya kesiapan mental para orang tua sebelum memiliki anak agar dapat membentuk keluarga yang berkualitas. “Pada 2016, KemenPPPA menginisiasi pembentukan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan keluarga. Pembelajaran diberikan oleh tenaga profesional, yaitu psikolog dengan meningkatkan kapasitas orang tua, keluarga, atau orang lain yang bertanggung jawab terhadap anak dalam mengasuh dan melindungi anak,” ujar Nahar.
Nahar mengapresiasi keberanian nenek korban dan lingkungan sekitarnya untuk melaporkan kasus kekerasan yang terjadi.
“Masyarakat dapat melaporkan kasus kekerasan yang dilihat atau dialaminya kepada pihak yang berwenang. Selain itu, masyarakat dalam menghubungi layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) melalui call center 129 atau Whatsapp 08111-129-129,” pungkas Nahar. (*/arl)










