oleh

Proyek PT Sorik Marapi Meledak, Sumur, Sungai dan Udara Tercemar

Mandailing Natal – Proyek pengeboran sumur panas bumi meledak dan menimblkan semburan gas liar di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara pada Minggu (24/4/2022). Akibatnya, 19 warga dan 2 orang kru pengeboran terpapar gas H2S yang keluar dari semburan liar. Korban yang terpapar gas H2S dilarikan ke RSUD Panyabungan.

Proyek pengeboran gas ini dikerjakan oleh PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) yang merupakan pengembang pada proyek PLTP Sorik Marapi.

Akibat semburan gas liar itu membuat bising warga. Semburan yang keluar dari perut bumi berupa asap dan air dan menimbulkan kebisingan. Material berupa cairan yang keluar mencemari sumur warga dan sungai.

Menurut pihak kementerian ESDM, semburan liar merupakan salah satu potensi bahaya yang dapat terjadi dalam kegiatan pengeboran sehingga prosedur dan peralatan untuk pencegahannya juga harus dipersiapkan dengan baik.

Baca Juga  Ansar: Tak Perlu Jelekkan Pemimpin yang Lama

PLTP Sorik Marapi saat ini mengoperasikan 2 unit pembangkit dengan kapasitas pembangkitan 90 MW yang membantu meningkatkan kehandalan jaringan transmisi ketenagalistrikan Sumatera Utara. Dalam rangka pengembangan PLTP Sorik Marapi Unit III, SMGP melakukan kegiatan pengeboran sumur panas bumi yang salah satunya sumur T-12 untuk penyediaan suplai uap PLTP Unit III.

“Pengeboran sumur T-12 mulai dilaksanakan sejak tanggal 20 April 2022 dan direncanakan berlangsung selama 44 hari dengan target kedalaman 2700 meter,” buny rilis ESDM.

Ketika terjadi steam kick, kedalaman sumur baru mencapai 370 m dan belum mencapai zona reservoir sehingga memiliki kemungkinan kecil terjadinya steam kick. Dari penelusuran terhadap data-data pengeboran, penyebab munculnya semburan liar di duga berasal dari sumur T-11 yang berjarak kurang lebih 7 meter dari sumur T-12. Tim Kementerian ESDM terus melakukan pendalaman untuk menemukan penyebab semburan liar tersebut.

Baca Juga  Ketua LAM Kepri Serukan Pilih Isdianto-Suryani

Dampak dari kejadian tersebut, dilaporkan sebanyak 19 orang warga masyarakat dan 2 orang kru pengeboran terpapar gas H2S yang keluar dari semburan liar.

Mendapat laporan kejadian tersebut, Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM segera mengeluarkan 5 rekomendasi untuk penanganan. Kementerian ESDM juga telah membentuk Tim Investigasi Kementerian ESDM yang hari ini telah berada di lokasi untuk melakukan investigasi. Direktur Panas Bumi/Kepala Inspektur Panas Bumi (KAIP) juga telah menerbitkan surat instruksi penghentian sementara kegiatan pengeboran dan uji alir sumur kepada SMGP dengan pertimbangan aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan, sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Harris, Direktur Panas Bumi/KAIP.

Baca Juga  Realisasi Penyerapan Anggaran APBD Kepri Terbaik Ke-4 di Indonesia

Upaya penanganan semburan liar yang dilakukan SMGP berjalan efektif dan semburan secara bertahap mereda hingga pada pukul 16.40 WIB sumur telah dapat dikendalikan sepenuhnya.

Upaya penanganan saat ini salah satunya difokuskan untuk memberikan perawatan yang optimal kepada korban yang terdampak paparan gas H2S. Saat ini kondisi kesehatan korban semakin membaik dan beberapa orang warga telah diizinkan pulang ke rumah.

Kementerian ESDM berharap agar semua pihak dapat menjaga situasi tetap kondusif agar upaya pemulihan dapat berjalan dengan lancar.

“Harris menambahkan bahwa Kementerian ESDM akan mengambil langkah tegas untuk menegakkan peraturan K3LL panas bumi dalam rangka menciptakan pengusahaan panas bumi yang aman dan ramah lingkungan,” tutup Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Agung Pribadi dalam rilisnya. (*/arl)

News Feed