oleh

BPNB Kepri Dukung Upaya Kemendikbuddikti Menjadikan Jalur Rempah Jadi Warisan Budaya Dunia

TANJUNGPINANG – Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 telah menyinggah Kupang, Nusa Tenggara Timur pada (25/6/2022). Kupang merupakan titik singgah keenam dan kini dalam pelayaran kembali ke Surabaya.

Perairan di Indonesia dikenal sebagai jalur rempah sejak jaman nenek moyang kita. Bahkan, perlayanan rempah dari nusantara berasal dari berbagi daerah di Indonesia. Memang sejak dulu Indonesia terkenal
dengan rempah-rempahnya. Bahkan kini, Indonesia masih populer dengan ekspor berbagai jenis rempah. Jalur rempah Indonesia dipercaya sudah ada sebelum jaman penjajahan.

Kini pemerintah Indonesia melalui Kemendikbudristek ingin menjadikan Jalur Rempah Indonesia menjadi warisan budaya dunia. Targetnya, pada tahun 2024 Jalur Rempah Indonesia sudah tercatat di Unesco sebagai warisan Budaya Dunia.

Berbagai kegiatan jalur rempah selalu digelar setiap tahunnya. Pemerintah Pusat sudah menggagas berbagai kegiatan Jalur Rempah sejak 2019 lalu. Namun, pelaksanaannya sempat mengalami beberapa kali revisi dan penyesuaian karena pada 2020 sampai 2021 Pandemi Covid-19 sedang menghantui dunia termasuk Indonesia.

Tahun ini, kegiatanya merupa Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 menggunakan Jalur Timur. Tidak tanggung-tanggung, muhibah Budaya Jalur Rempah tahun ini menggunakan melakukan KRI Dewa Ruci sebagai sarana pelayaran. Rutenya tahun ini mulai dari Surabaya, Makassar, Baubau-Buton, Ternate-
Tidore, Banda Neira dan singgah di Kupang, dan akan kembali ke Surabaya.

Menurut Kepala Balai Pelestarisan Nilai Budaya (BPNB) Kepri Toto Sucipto, Meski Rute Jalur Rempah tahun ini melalui jalur timur, namun setiap kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Nasional (BPNB) di beberapa provinsi di Indonesia tetap menggelar kegiatan yang mendukung program pelayaran Jalur Rempah. Termasuk juga di BPNB Kepuluan Riau.

Menurutnya, Jalur Rempah merupakan magnet dunia.

“Asimilasi budaya dan keterhubungan antarbangsa di Indonesia tidak terjadi begitu saja. Di masa lampau, kehadiran para pedagang antarbangsa memiliki peranan penting terhadap perkembangan budaya yang masih bisa kita lihat dan rasakan jejaknya. Hal ini disebabkan oleh komoditi rempah yang berasal dari berbagai kepulauan di Nusantara yang terlibat dalam lalu lintas perdagangan di masa lampau, sehingga menjadi salah satu jalur budaya,” jelas Toto Sucipto.

Baca Juga  Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Perairan Karimun Anak, Polisi Masih Lakukan Identifikasi

Kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah diselenggarakan Kemendikbudristek bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), pemerintah daerah, serta berbagai komunitas budaya.

“Untuk Putra putri dari Kepri saja ada lima yang diterima mengikuti Muhibah Jalur Rempah di wilayah timur Indonesia. Saat ini ada tiga Putra Kepri yang masih mengikuti Muhibah Jalur Rempah dengan KRI Dewa Ruci,” terang Toto Sucipto.

Diterangkan Toto lebih jauh, Program jalur rempah ini dibuat sejak 2019 oleh Dirjen Kebudayaan.

“Intinya difokuskan upaya membangkitkan kesadaran dan kebanggaan akan jalur budaya pelayaran dan perdagangan. Kita sama-sama mencoba menguatkan narasi warisan budaya nasional melalui Muhibah Jalur Rempah karena targetnya pada 2024 sudah menjadi warisan budaya dunia. Jadi perlu nasari yang kuat dan masyarakat perlu mendukung. Kita ingin memberi pemahaman kebaharian nusantara serta potensi menjadi poros maritim dunia,” kata BPNB Kepuluan Riau ini.

Saat ditanya tujuan muhibah Jalur Rempah, Toto menyebut salah satunya untuk menyalakan ingatan dan kebanggaan akan jati diri sebagai bangsa bahari, selain itu sebagai kekuatan ribuan tali
kekerabatan budaya dan peradaban.

Ketika ditanya Konsep Jalur Rempah yag sedang digaungkan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan, Kata Toto Sucipto, ada tiga aspek yakni Jalur, Jejak dan Masa Depan.

Jalur jejaknya terlihat bahwa jalur rempah terdahulu meningalkan berbagai jalur budaya. Kemudian ada jalur jejak seperti banyaknya pelabuhan-pelabuhan yang menjadi besar sebagai akses petukaran niaga gagasan dan pengetahuan seni dan budaya.

Baca Juga  Penandatanganan PKS SMSI dengan TNI AD Bentuk Sinergi Menjaga NKRI dan Cita-cita Kemerdekaan

“Jejak jalur rempah ini mengingatkan ada interaksi budaya di masa lampau. Contohnya saja Zapin Penyengat yang ada kultur asingnya juga dipercaya sebagai warisan budaya tak benda. Ada juga dan cagar budaya. Itu sebagian dari jejak-jejak Jalur Rempah,” terangnya.

Lalu, sabung Toto, ada Aspek Masa Depan. “Program ini berfokus pada kesadaran untuk melestarikan dan pengembangan warisan budaya untuk kesejahteraan. Potesi-potensi lama yang sukses dimasa lampau bisa dikemangkan lagi menjadi lebih bagus di masa depan. Termasuk pengembangan atau dihidupkan lagi perkebunan pala dan gambir serta jenis rempah lainnya. Karena rempah ini salah satu kejayaan dimasa nenek moyang kita,” imbuhnya.

Untuk muhibah Jalur Rempah yang dilakukan saat ini, sambung Toto, ini bagai napak tilas kejayaan jalur rempah dimasa lampau dengan menghidupkan kembali sejarah jalur rempah berupa pelayaran dalam negeri dan luar negeri.

“Untuk rute dalam negeri awalnya akan dilalui oleh KRI Dewa Ruci. Sementara untuk jalur luar negeri ke India dan Tiongkok menggunakan KRI Bima Cuci luarnegeri. Hanya saja, karena pandemi Covid-19 akhirnya mengalami penyederhanaan dan dicoba lagi berlayar tapi hanya untuk dalam negeri,” bebernya.

Awalnya, Tanjungpinang Termasuk salah satu rute Jalur Rempah yang akan dilalui KRI Dewa Ruci. Karena Tanjungpinang termasuk dalam rencana di 13 titik yang disinggahi KRI Dewa Ruci. Namun karena penyederhanaan rute kini diubah menjadi 7 titik dan semua masuk wi wilayah Indonesia Timur.

Ketika disinggung kegiatan BPNB Kepri dalam mendukung Jalur Rempah, Toto Sucipto menyebutkan, sejak 2020 BPNB menggelar diskusi, sosialisasi program jalur rempah. “Diantaranya kita menggelar diskusi beryema teknologi maritim, ada diskusi bertema rempah dalam pengobatan. Ada juga bertema tari zapin Penyengat dalam budaya bahkan membuat tiga film dokumenter,” terangnya.

Ketika disinggung Sungaicarang yang populer dijaman dahulu sebagai salah satu titik Jalur rempah, Toto menyebut, BPNB juga menggelar 3 webinar zoom jalur Sungai Carang untuk mengungkap kembali riuhnya sungai Carang dijaman kerajaan sebagai pusat perdagangan dan jalur rempah.

Baca Juga  Awe Sinergitas Bintan dan Lingga Perlu Diwujudkan

“Untuk berbagai program awal yang semula kita siapkan untuk menyambut KRI Dewa Ruci di Tanjungpinang, kita ubah menjadi kegiatan komonitas sejak Januari sampai Juni 2021 lalu. Awalnya kita sudah melakukan pertemuan dengan pemprov Kepri dan Pemkab Bintan tentang rencana penyambutan KRI Dewa Ruci yang semula dijadwalkan bersandar di Tanjunguban. namun, akhirnya ditangguhkan karena pandemi dan diubah menjadi beberapa kegiatan daring konser memperkenalkan jalur rempah, workshop, film jalur rempah serta lomba-lomba desain poster jalur rempah,” kata Toto.

Untuk menyosialisasikan program Jalur Rempah, BPNB menayangkan beberapa film tentang pameran pembuatan kuliner di kanal jalur rempah .

Disinggung Toto pula, alasan salah satu kegiatannya berupa kuliner di jalur rempah, karena dalam Jalur rempah itu ada jalur jejak, ada Jalur Budaya dan ada masa depan.

“Dalam Jalur Rempah dulu, ada hasil interaksi berupa kuliner, seni tari, budaya. Tentu kuliner ini alkulturasi (perpaduan budaya) dengan budaya lain. Seperti altikurasi juga dengan arab, serta kuliner juga banyak menggunakan rempah-rempah,” ceritanya.

Disinggung Toto Sucipto juga, rute Muhibah Jalur Rempah yang dilalui KRI Dewa Ruci disambut antusias oleh masyarakat di setiap titikpersingahan di wilayah Timur.

“Jadi masyarakat sangat bangga dengan program Muhibah Jalur Rempah. Setiap KRI Dewa Ruci bersandar mengundang mahasiswa dan pelajar serta komunitas untuk menyampaikan program jalur rempah. Di beberapa titik persingahan KRI Dewa Ruci bersama Laskar Jalur Rempah disambut dengan tari daerah, kulier dan disambut antusias masyarakat. Masyarakat setempat dipersilakan naik dan melihat-lihat kondisi KRI Dewa Ruci,” sebut Toto. (*/arl)

News Feed