oleh

Daftar Tunggu Capai 5.000 Warga “Dipaksa” Pakai Air Sumur

KEPRINEWS.CO.ID, TANJUNGPINANG-  Krisis air bersih di Tanjungpinang dan Bintan sampai kini belum ada solusinya. Rencana pemeritah sejak 10 tahun lalu untuk membangun DAM Busung sampai kini masih sebatas wacana. DAM Busung belum ada tanda-tanda akan dibangun pemerintah.

Saat ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri  selaku pengelola air bersih hanya mengadalkan sumber air bersih dari dua waduk tadah hujan yakni Waduk Sungaipulai dan Waduk Seigesek. Ketersediaan air di waduk ini sangat terbatas dan tidak mampu mencukupi kebutuhan air bersih warga Tanjungpinang dan Bintan.

Akibatnya, mayoritas warga Tanjungpinang dan Bintan terpaksa hanya mengandalkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari.  Umumnya sumur air bersih yang dimiliki warga mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Keinginan warga untuk berlangganan air PDAM sangat tinggi. Namun pihak PDAM tdiak bisa merealisasikan seluruh pengajuan pemasangan baru karena produksi air bersih sangat terbatas.

Baca Juga  Ketua LAM Kepri Serukan Pilih Isdianto-Suryani

Pelanggan PDAM saat ini baru 21 ribu pelanggan. Sementara daftar tunggu pemasangan baru sudah mencapai 5000.

Menurut Kepala Sub Bagian Umum PDAM Tirta Kepri  Fazli, untuk daftar tunggu yang sudah mencapai 5000 banyak yang mendesak untuk menjadiprioritas pemasangan. PDAM sulit untuk merealisasikan pengajuan pemasangan baru itu, karena produksi air bersih tidak mencukupi karena ketersediaan air bersih di dua waduk PDAM sangat sedikit.

“Waduk yang kita punya sebagai sumber air baku hanya sebatas waduk menampung air hujan. Selama ini Waduk Seipulai dan Waduk Kawal masih menjadi andalah untuk menyuplai air ke pelayanan. Sementara pelayanan di Kijang PDAM mengandalkan waduk Kolong Enam, dan untuk wilayah Tanjung Uban ada namanya Waduk Seijago, ”  ungkapnya, Senin (21/6/2021).

Baca Juga  Pemprov Minta Tambahan 30 Ribu Vaksin Covid-19 untuk Sektor Pariwisata

Semua waduk yang dimiliki PDAM sebagai sumber air bersih selalu susut di musim kemarau serta terjadi pendangkalan saat musim hujan tiba.

“Kita memproduksi atau mendistribusikan air memakai neraca air. Jadi untuk level air paling tinggi 4 meter dari batas mesin sedot. Apabila sudah  melewati batas ketinggian, maka kita akan mengurangi sistem distribusi airnya. Jika dipaksakan memproduksi dalam jumlah yang banyak maka akan semakin cepat habis. Air baku yang mestinya bertahan 2 – 3 Minggu bisa kering dalam waktu seminggu jika produksi air tidak dikurangi,” lanjut Fazli.

Dalam menyuplai air bersih ke pelanggan, PDAM juga acap kali mendapat masalah. Salah satunya karena usia pipa PDAM sudah sangat tua sehingga mengakibatkan daya tahan. Jika skala tekanan dipaksa naik lagi makan pipa mudah jebol .

“Ketika kita mem-preasure dengan tekanan tinggi maka terjadi pipanya pecah dan yang menjadi korban PDAM tentu dan pelanggan karena suplai air jadi terganggu, ” jelas Fazli

Baca Juga  Raja Dachroni Yakin Endang Abdullah Mampu Bantu Walikota Rahma Tangani Pandemi di Tanjungpinang

Masih kata Fazli, untuk tarif itu PDAM, sudah ada ketentuannya, yakni secara progresif ada 4 yakni 0-10, 11-20 dan 21-30 serta 30 kubik ke atas untuk tarif pelanggan  rumah tangga.

“Tarif itu Rp2.300-2.600 per kubik untuk yang 0-10 untuk posisi rumah tangga. Tarif tersebut ditetapkan melalui SK Gubernur. Saat ini PDAM masih menggunakan aturan yang lama dalam penerapan tarif. Kita sudah mengajukan mekanisme aturan yang baru. Kami ini hidup matinya dari jualan air. Semua biaya operasional dari hasil jualan air akan kita laporkan kepada pemerintah daerah. Saya berharap kepada masyarakat selalu hemat serta maksimal  memakai air, ” pungkasnya.(cr11)

News Feed