Lebih lanjut, Helmi menuturkan kekecewaannya terhadap sikap Kapolda dan Wakapolda Gorontalo yang enggan mau bertemu dengan seluruh wartawan saat melakukan aksi damai untuk menunjukkan sikapnya peduli terhadap kebebasan Pers di Gorontalo.
“Ketika ada rilis-rilis tentang Kapolda, kami dikirim. Diminta untuk dimuat. Sementara ketika kita ingin bertemu langsung di hadapan Kapolda. Baik Kapolda maupun Wakapolda tidak ada yang bersedia untuk berbicara dihadapan kami,” terangnya.

“Terbukti bahwa hari ini, Kapolda maupun Wakapolda tidak ada yang berada di barisan depan massa. Ini ada apa? Kenapa Kapolda sangat anti terhadap wartawan?,” papar Helmi.
Aksi puluhan wartawan se Gorontalo ini, diwarnai dengan taburan bunga yang diletakan di depan pintu gerbang Mapolda Gorontalo sebagai bentuk perlawanan Wartawan di Gorontalo.
“Seluruh masa aksi letakan Id Card, dan taburkan bunga ini sebagai bentuk perlawanan bahwa kebebasan pers kita telah mati,” ucap Helmi.
Terakhir, dengan tanda penyerahan Buku panduan Jurnalis kepada pihak Polda Gorontalo, Helmi meminta kepada Polda untuk belajar tentang UU Pers, dan meminta masa aksi memutus mitra kerja dengan pihak kepolisian diwilayah Gorontalo.
“Kita minta Kapolda dan jajaran untuk belajar lagi soal undang undang pers, dan seluruh masa aksi di sore ini kita putus mitra kerja baik di Polda, dan Polres se Gorontalo,” pungkasnya.
Redaksi Gorontalo











Komentar