oleh

Ansar – Marlin Harus Fokus Atasi Kontraksi Perekonomian Kepri yang Mencapai -3,80 Persen

TANJUNGPINANG – Retaknya Gubernur dengan Wakil Gubernur Kepri Ansar-Marlin yang baru dilantik beberapa bulan yang lalu tentang persoalan bagi bagi jabatan di lingkungan Pemprov Kepri sudah menjadi pembicaraan publik akhir akhir ini yang diangkat sejumlah media siber dan diviralkan di media sosial. Menurut Pengamat Sosiologi Politik yang juga merupakan Direktur Exsekutif Inspire Kepri Dr (c) Suyito, mencuatnya konflik antara Gubernur dan Wagub telah menjadi atensi publik dan konsekwensi konsekwensi yang tidak diharapkan. Idealnya ditengah ditengah Kondisi daya tahan sosial masyarakat yang tidak menggembirakan akibat dari Virus Corona saat ini justru pemimpinnya tidak sense of crisis terhadap rakyatnya, ini contoh yang tidak baik bagi masyarakat.

Baca Juga  AWe Bawa Teknologi Baru ke Bintan

“Konsekwensi yang tidak diharapkan juga bisa membuat berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya. Seharusnya Distribusi Keadilan bagi bagi jabatan dibincangkan secara internal dan tidak menjadi konsumsi publik, karena bisa menjadi preseden buruk dalam mengelola pemerintahan yang baik,” kata Suyito

Ditambahkannya, dari sini terlihat hasrat politik diantara penguasa tidak dijaminkan pada etika publik, ini terlihat dari politik hasrat yg tidak diasuransikan dalam MOU sebelum dan sesudah deal deal bargaining dibincangkan pada tataran elitis.

“Jadi akhirnya menjadi opini publik akibat adanya konfrontasi nilai diantara duet penguasa hari ini, idealnya setelah dilantik mereka melambungkan gagasan atau konsep operasional janji politiknya yang akan memulihkan ekonomi saat Covid, tapi faktanya tidak begitu. Ucapan kami bukanlah milik timses lagi tapi milik rakyat Kepri jadi mentah kembali, ini juga menggambarkan bahwa Ansar-Marlin belum siap menang, kita tidak ingin konflik-konflik seperti ini merugikan masyarakat Kepri,” kata Suyito.

Baca Juga  Komisioner KPU dan Bawaslu juga Penyelenggara Negara

Dia mengingatkan, waktu atau masa kepemimpinan Ansar-Marlin tidak lama. Hanya tiga tahun ditambah dengan kondisi Covid untuk mewujudkan Kepri yang sejahtera atau makmur dan berbudaya seperti yang divisikan Ansar-Marlin bukanlah sesuatu hal yang mudah memerlukan kolaborasi dan kerja supertim.

“Kita sebenarnya menanti gebrakan yang diucapkan saat debat akan memulihkan perekonomian Kepri yang terpuruk, kalau kita merujuk data BPS Kepri 2021 perekonomian Kepri tahun 2020 mengalami kontraksi -3,80 peresn setelah pada tahun 2019 mampu tumbuh sebesar 4,89 persen, bagaimana Ansar-Marlin menjawab hal ini. Inilah yang perlu dimunculkan ke publik supaya kemudian optimisme terbangun dan perdebatan-perdebatan untuk mengatasi persoalan perekonomian ini harus sering diungkapkan ketimbang agenda-agenda seremonial yang tidak begitu penting ditengah kondisi perekonomian yang seperti saat ini,” tutup Suyito.

Komentar

News Feed