oleh

Tim Reaksi Cepat BPB Damkar Natuna Evakuasi Ular Piton Sepanjang 2,9 Meter

NATUNA – Aparatur Tim Reaksi Cepat (TRC) Bidang Penanggulangan Bencana (BPB) Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau  kembali mendapatkan laporan dari warga ada seekor ular piton sepanjang 2,9 meter di halaman Asrama Haji kompleks Masjid Agung Natuna.

“Atas dasar laporan tersebut tim langsung bergerak cepat, tanggap, tangkas dan tangguh, dengan mengerahkan satu unit mobil damkar menuju lokasi untuk mengevakuasi,” sebut Kepala Sesi Kedaruratan, Logistik, Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Bidang Penanggulangan Bencana, Elkadar Lismana, SAP, M.Si, kepada koranperbatasan.com grup siberindo.co Jum’at 08 Oktober 2021 malam.

Kata Elkadar, dalam operasi yang memakan waktu sekitar 15 menit tersebut, petugas yang diturunkan berjumlah sembilan orang.

“Penangkapan ular piton dilaksanakan pada pukul 21:05 Wib, berakhir 21:20 Wib,” pungkasnya.

Elkadar menyebutkan, petugas yang menangkap ular melengkapi diri dengan peralatan dan sarung tangan. Tidak menemukan kendala saat melakukan evakuasi. Ular tersebut berhasil diamankan dan dimasukkan dalam karung untuk dibawa ke Mako Damkar Natuna.

Baca Juga  Bupati Natuna Minta ASN Kumpulkan Sekilo Beras Perbulan, ini Tujuannya Mandalapos.co.id, Natuna -- Bupati Natuna Wan Siswandi, melontarkan gagasan agar setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkab Natuna mengumpulkan satu kilo beras setiap bulannya. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam rapat koordinasi dan evaluasi dengan para kepala OPD, Kamis (6/10) di Kantor Bupati Natuna. Diungkapkan Wan Siswandi, gagasan tersebut muncul setelah ia melihat langsung kesulitan yang dialami masyarakat Natuna, di tengah kondisi ekonomi yang sedang merosot. "Saya turun ke kampung-kampung, memang betul-betul sulit masyarakat kita ini. Bagaimana kalau kita sepakat mengumpulkan sekilo beras perorang tiap bulannya, Kira-kira keberatan tidak? " tuturnya. Menurut Wan Siswandi, selain membantu masyarakat yang kesulitan, jika dilakukan dengan ikhlas maka akan berbuah pahala bagi orang yang membantu. "Kita anggap ini infak, sedekah atau apa nanti namanya, kita kumpulkan semua di kantor bupati, nanti setiap awal bulan kita salurkan ke yang membutuhkan," ujarnya. Terkait teknis pengumpulan beras, menurut Wan Siswandi akan diserahkan ke dinas masing-masing. Setelah beras dari dinas terkumpul, selanjutnya diserahkan ke sekretariat daerah untuk kemudian didistribusikan. "Kalau kita bisa lakukan itu kan luar biasa, beras hanya Rp15 ribu, bisa lah itu," ucapnya. Menambahkan, Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda, meminta beras yang nantinya akan dikumpulkan ini, dibeli dari produk lokal. " Kalau bisa beli berasnya produk beras lokal, biar menghidupkan petani lokal dan ekonomi lokal juga," pintanya. Sementara itu, Asisten III Pemkab Natuna, Tasrif, berharap kedepan selain sumbangan beras, agar pegawai di lingkungan Pemkab Natuna juga bisa berinfak tambahan, yakni uang sebesar dua ribu Rupiah setiap hari Jum'at. Ide Asisten III pun disambut baik pemimpin daerah, Wabup Natuna Rodhial menilai, dengan infak yang dikumpulkan itu nantinya bisa membantu masyarakat yang sangat membutuhkan, khususnya di tengah situasi mendesak dan membutuhkan pertolongan cepat.

“Dikarenakan ular piton sudah besar, maka petugas mengambil keputasan untuk dimusnahkan, karena apabila dilepas dalam sungai ataupun di hutan dihawatirkan mengganggu atau meresahkan  warga,” ungkapnya.

Saat evakuasi lanjut Elkadar, tim saling bagi tugas. Ada yang menangkap kepalanya, ada yang menarik buntutnya, ada yang mencongkel kepalanya agar tidak melilit, ada pula yang memegang karung. Sehingga operasi evakuasi berjalan aman dan lancar serta tidak ada korban jiwa.

Baca Juga  Ratusan CPNS Pemkab Natuna Akan Ikuti SKB

“Pelapor tak mengetahui dari mana asal kedatangan ular tersebut.  Tiba-tiba beliau gempar setelah mengetahui adanya ular piton, sehingga langsung menghubungi kita,” imbuhnya.

Elkadar memastikan, warga mengaku khawatir jika hewan melata itu dilepas, maka akan memangsa ternak milik mereka (warga-red). Apa lagi jika reptile tersebut memakan korban dengan belitannya yang mematikan.

“Kebanyakan warga yang melihat ular itu tidak berani menangkap karena khawatir menjadi korban belitan ular yang mematikan,” tutupnya. (KP).

Laporan : Amran

News Feed