oleh

Indonesia Raih Lima Medali di Olimpiade Tokyo

JAKARTA – Sampai Selasa (3/8/2021) sore, tim Indonesia sudah meraih lima medali di olimpiade Tokyo. Lima medali itu satu emas, satu perak dan tiga perunggu. Medali emas diraih pebulutangkis ganda wanita Greysia Polii-Apriani Rahayu dan medali perak diraih Eko Yuli Irawan dari cabang angkat berat kelas 61 pria. Tiga medali perunggu lainnya masing-masing diraih Anthony sinisuka Ginting pebulu tangkis tunggal pria, Rahmad Erwin Abdullah angkat berat kelas 73 kg pria dan Windy Cantika Aisyah dari angkat berat wanita kelas 49 kg.

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali mengatakan medali emas yang diraih ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu dari cabang olahraga badminton di Olimpiade Tokyo 2021 menjadi kado di momen 76 Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia.

“Jadi kemenangan ini merupakan kado 76 tahun Indonesia merdeka. Dan sebagian orang mengatakan ini adalah setitik embun atau air di tengah gurun pasir. Tetapi prestasi ini luar biasa,” kata Menpora Amali saat menjadi narasumber bersama radio Trijaya FM dengan tema ‘Olimpiade Tokyo’, Selasa (3/8).

Baca Juga  Dapat Setoran dari Narkoba, Mantan Kapolres Bandara Soetta Kombes Edwin Dipecat

Dalam kesempatan ini, Menpora mengaku sempat deg deg kan saat menonton laga final Greysia Polii/Apriyani karena mereka harapan terakhir Indonesia untuk meraih emas. Namun, dia merasa lega karena keduanya bermain rileks tanpa beban di set kedua.

“Begitu masuk set kedua, saya mulai agak tenang. Karena saya lihat mereka mulai lepas, tidak ada beban, bebas,” jelasnya.

Dengan demikian kedepan, lanjut Menpora Amali, pola pembinaan atlet prestasi harus diubah dan harus didesain. Sebab, prestasi yang lahir saat ini bukanlah by design tapi by accident.

“Kalau pembinaan masih seperti sekarang maka kita deg-deg kan. Artinya kita pasti akan mempunyai prestasi apa adanya seperti sekarang ini. Karena apa? kita dapatnya sekarang by accident, menurut saya tidak by design,” ungkapnya.

Dengan demikian, Menpora Amali bersama stakeholder terkait, akademisi, praktisi dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi menyusun Grand Desain Olahraga Nasional, karena menyadari prestasi olahraga didesain dan direncanakan.

Di dalam grand design tersebut, pemerintah sudah menetapkan cabang-cabang olahraga unggulan yang sesuai dengan karakter fisik orang Indonesia.

“Pertama, kita memilih cabang olahraga yang dipertandingkan di olimpiade, karena tidak semua cabang olahraga dipertandingkan. Oleh karena itu olimpiade kita jadikan sebagai sasaran utama yang dibawahnya misalnya Asian Games dan SEA Games itu sasaran antara saja. Karena prestasi olahraga tertinggi olimpiade,” ujarnya.

Baca Juga  Brigjen TNI Iroth Beri Bimbingan Teknis Media Siber

Selain itu, diputuskan juga bahwa Indonesia akan berkonsentrasi pada cabang-cabang olahraga yang mengandalkan teknik dan akurasi. Sbab, hal itu memungkinkan bisa bersaing dengan atlet-atlet dari negara lain yang fisiknya lebih tinggi.

Disamping itu, itu dalam Grand Desain Olahraga Nasional ini ditargetkan hingga 100 tahun Indonesia merdeka atau Olimpiade 2044 dengan target peringkat Indonesia berada di urutan 5 besar dunia.

Dan setiap olimpiade, ditargetkan rangking Indonesia terus meningkat yang dimulai dari olimpiade Tokyo 2020 ditargetkan berada di urutan 40, lebih tinggi dari posisi sebelumnya di Olimpiade Rio De Jeneiro 2016 lalu berada di urutan 46. Dan seterusnya, olimpiade Paris 2024 dan olimpiade Los Angeles 2028 pun demikian ditargetkan terus meningkat posisi Indonesia.

“Olimpiade 2032 itu kita mengharapkan berada di posisi 12. Dan road map-nya menuju ke sana sudah kita buat. Jadi sekarang kita sudah punya blueprint, tapi sedang masih menunggu payung hukum. Sekarang sedang disusun Perpresnya,” ujarnya.

Baca Juga  BNPT Sebut Khilafatul Muslimin Sama Bahayanya dengan HTI, NII Bahkan ISIS

“Kita bisa, asal kita fokus memilih cabang olahraga yang memungkinkan untuk kita bisa dorong berprestasi dan pembinaannya harus benar-benar serius, terstruktur, sistematis dan masif di seluruh tanah air,” ungkapnya.

Dalam pembinaan atlet jangka panjang, Kemenpora bekerjasama dengan kementerian/lembaga lain. Misalnya terkait infrastruktur atau fasilitas olahraga dibangun Kemnterian PUPR, kemudian untuk menjaring talenta muda atau siswa di daerah bekerjasama dengan Kemendagri dan Kemendikbud Ristek dalam menjaring 150 atlet nasional dari 250 ribu talenta di seluruh Indonesia.

Selain itu, pihaknya bekerjasama dengan Kemdikbud Ristek untuk menyusun kurikulum khusus bagi para atlet yang nantinya belajar di sekolah keolahragaan dan sentra-sentra olahraga yang dibangun pemerintah. Sebab, saat ini atlet masih mendapatkan pelajaran reguler yang sama dengan siswa pada umumnya.

“Oleh karena itu kami minta tolong untuk dibuatkan kurikulum khusus mereka artinya pelajaran-pelajaran yang yang diberikan kepada mereka nggak usah terlalu banyak variasinya. Sehingga hasil pelajaran secara akademik mereka tetap bisa terjaga, prestasinya dan olahraganya,” harapnya.(ded)

News Feed